Kenalan dengan Sepatu Baru, Bullying Bukan?

Kenalan dengan Sepatu Baru, Bullying Bukan?
Oleh: Ajun Pujang Anom

Sewaktu kita sekolah, pasti ada momen dimana kita punya sepatu baru. Tentu sebagai anak-anak, senang dong punya sepatu baru. Jangankan anak-anak, emak-emak pun kegirangan kalau punya sepatu baru. Apalagi jika itu gratis. Dan dibelikan oleh suami pula. Tak percaya? Coba saja pada istri Anda.

Namun hidup itu selalu memiliki dua sisi. Baik sisi yang baik maupun buruk. Dan kita tidak mungkin mencegahnya.

Termasuk pula ketika memiliki sepatu baru. Dan jika kita membawanya ke sekolah, segera bersiap-siaplah untuk mendapatkan sesuatu yang mengerikan. Jangan terlalu berharap dapat banyak pujian.

Dampak malang yang mungkin terjadi adalah sepatu baru kita itu akan dihajar habis-habisan. Diinjak-injak tanpa perasaan belas kasihan.

Tapi untungnya kita itu Bangsa Indonesia yang terkenal tegar mentalnya. Jadi masalah yang seremeh ini, tak mungkinlah melelehkan perasaan. Meskipun ada juga di antara kita, yang sedikit agak sesenggukan. Maklum saja, sepatu baru itu hadiah ultahnya. Jadi wajarlah kalau ada setitik air mata keluar.

Hal ini bukanlah melow atau bersikap menye-menye. Namanya anak-anak, dimana-mana, pasti hatinya akan sedih apabila sepatu baru yang didapat saat ultah, dizalimi. Walaupun begitu, tanpa hitungan jam, kalbu yang agak terkoyak itu pun sembuh.

Akhirnya yang menjadi pertanyaan adalah, “Apakah perilaku menindas sepatu baru atau dikenal dengan istilah “kenalan”, itu merupakan sebuah tindakan barbarian?”

Kelihatannya kok berlebihan jika hal itu dikategorikan ke dalam kelompok tersebut. Sebab peristiwa itu, cenderung dikenakan pada anak-anak yang secara sosial dianggap sama dengan pelaku. Sehingga kemungkinan kecil terjadi pada anak yang pendiam, berkebutuhan khusus, penyendiri atau yang sengaja dijauhi secara klasikal.

Meskipun hal ini juga, tak lantas patut untuk ditolerir. Sebab, jika kita melihat maupun mendengar aduan tentang kejadian ini. Sudah sewajarnya kita sebagai guru bersikap bijaksana. Dan berusaha sedapat mungkin memotong mata rantai keberlangsungan “ritual” semacam ini.

  • Bojonegoro, 8 April 2019

Tinggalkan Balasan