Menjenguk Kemonotonan dalam Pengajaran

Menjenguk Kemonotonan dalam Pengajaran
Oleh: Ajun Pujang Anom

Apakah salah jika melakukan cara yang sama dalam kegiatan belajar mengajar, selama bertahun-tahun? Jawaban seperti ini tergantung pada cara apa yang digunakan dan seberapa efektifkah dalam mendorong siswa untuk maju. Bila memang sungguh-sungguh dapat meningkatkan pemahaman dan prestasi siswa, mengapa tidak digunakan berkali-kali? Bukankah hal yang baru belum tentu juga bagus, bahkan dapat merusak yang sudah ada?

Namun adakah cara yang sama, sukses diterapkan selama bertahun-tahun, tanpa proses perubahan sama sekali? Padahal kita lihat, perkembangan dunia semakin cepat. Apakah cara yang sama itu memberikan siswa kemampuan berdaya saing?

Mari kita renungkan bersama. Murid adalah amanah bagi kita, sebagai guru. Oleh sebab itu, harus selalu ditanamkan keyakinan di hati, akan memberikan yang terbaik pada mereka. Dengan ini, kita akan mengkaji seberapa jauh kita dalam melangkah. Seberapa jauh kita dalam memberikan kondisi yang kondusif bagi tumbuh kembang potensi mereka.

Apakah kita telah menciptakan suasana keterbukaan di ruang-ruang kelas? Sebab kita tahu sendiri, keterbukaan adalah salah satu jalan menuju hasil terbaik. Apakah kita masih menjadikan mereka sebagai obyek belaka? Jika ini yang selalu kita kerjakan, apakah masih pantas untuk berharap ada kemajuan dalam bidang pendidikan kita?

Renungan ini tentu tidak berhenti di angan-angan saja, harus ada action. Memang tidak mudah menerapkan apa yang ada di pikiran ke dunia nyata? Meskipun begitu, kita harus berani mencoba. Semangat berani mencoba inilah sebenarnya, yang patut kita sebarkan.

Salah satu problem pendidikan kita, adalah kurang mampu menaikkan level kepercayaan diri anak didik untuk berekspresi. Mereka hampir selalu malu-malu dalam mempertunjukkan bakat dan kemampuan mereka.

Mengapa ini terjadi? Ya karena kita sebagai guru kurang memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi mereka untuk tampil. Kita baru bisa di tataran bibir. Tapi tidak benar-benar mendorong. Kita selalu bersembunyi di balik beban administrasi dan kerumitan kurikulum.

Padahal sebenarnya kita takut mengakui, bahwa kita tidak berani melakukan terobosan-terobosan. Kita masih suka menikmati seperti apa yang sudah-sudah. Dan kita biasa mengeluarkan seribu satu alasan pembenar untuk tindakan kita. Apabila demikian yang selalu terjadi, apakah kita masih layak untuk berharap pendidikan kita menjadi hebat?

Bojonegoro, 27 Maret 2019

Tinggalkan Balasan