Seberapa Perlu Kemampuan Berpikir Kritis dalam Pendidikan Kita?

Seberapa Perlu Kemampuan Berpikir Kritis dalam Pendidikan Kita?
Oleh: Ajun Pujang Anom

Cerita di bawah ini adalah fiksi belaka. Meskipun begitu, mungkin dapat terjadi di lingkungan sekolah kita.

Cerita 1

Suatu hari anak didik saya, sebut saja namanya Ali, bertanya pada saya, “Pak, mengapa uang seratusan dan dua ratusan selalu dijadikan satu, sehingga berjumlah lima ratusan?”

Karena saya guru yang gaplit (gagap literasi), maka saya balas begini, “Lho kenapa kamu tanya begitu?”

Dia pun menjawab seperti ini, “Kemarin saya lihat ibu, mengumpulkan uang seratusan dan dua ratusan. Lalu dijadikan satu memakai selotip.”

Saya pun terkekeh mendengar jawabannya dan berkata, “Berarti kamu keliru bertanya.”

Dia kelihatannya kebingungan melihat ucapan saya. Sejurus kemudian dia bertanya, “Kok keliru gimana pak? Kata ibu, kalau aku tak tahu tentang sesuatu, tanya pada gurumu. Bukankah bapak itu guruku?”

Saya berujar, “Betul, saya memang gurumu. Makanya saya bilang tindakanmu keliru. Mestinya kamu tanya pada ibumu, mengapa suka mengumpulkan uang seratusan dan dua ratusan, lalu diselotip agar berjumlah lima ratusan?”

Ali tersenyum mendengar jawaban ini. Lalu bilang, “Nanti pas sampai di rumah, aku tanya ibu.”

Cerita 2

Di lain hari, ada murid saya yang biasa dipanggil Budi. Dan dia bertanya seperti ini, “Kenapa ada angka 2 di uang?”

Katanya guru tak boleh bingung ketika mendapat pertanyaan apapun “modelnya” dari siswa. Namun faktanya tidak demikian dengan saya. Maka dengan diliputi perasaan bingung, saya balik bertanya kepadanya, “Apa maksudmu?”

“Gini pak. Itu lho ada uang dua ratusan, dua ribuan, dua puluhan ribu,” ujarnya.

Saya pun mengangguk-angguk tanda paham. Lalu bicara, “Sudahkah kamu cari di perpustakaan? Sudahkah kamu cari di mesin pencarian? Sudahkah kamu bertanya pada ortumu?”

Budi menjawab, “Kalau bertanya pada bapak dan ibu sudah. Cari di mesin pencarian juga sudah. Yang belum, pergi ke perpustakaan.”

Saya lalu menyuruhnya segera mencari di perpustakaan.

Cerita 3

Pada lain waktu, siswaku yang bernama Connie, bertanya jawab dengan saya. Ini pun masih berkaitan dengan uang. Beginilah percakapan saya dengannya.

Connie: “Enak ya pak, kalau banyak uang?”

Saya: “Memangnya kalau kamu punya banyak uang, mau buat apa?”

Connie: “Ya beli boneka, baju, sepeda, hape, dan snack.”

Saya: “Kalau uangnya masih sisa banyak?”

Connie: “Ya ditabung.”

Saya: “Ditabung semuanya?”

Connie: “Sebagian didermakan.”

Saya: “Baguslah.”

Connie: “Tapi aku nggak punya banyak uang, pak.”

Saya: “Besok kalau sudah besar, cari uang yang banyak.”

Connie: “Gimana kalau kita punya mesin pencetak uang sendiri? Pasti bisa mencetak uang sesuka kita.”

Saya: “O gitu ya? Tapi kalau semua orang punya mesin itu, berarti tak ada orang miskin?”

Connie: “Iya pak.”

Mendengar jawabannya, saya tidak berminat untuk meneruskan. Soalnya tahu sendiri kan, anak kecil apa mengerti tentang permasalahan ekonomi?

Dari ketiga cerita di atas terlihat kesan, bahwa tingkat kekritisan siswa sengaja didesain untuk direduksi (atau bahkan dieliminasi) oleh gurunya sendiri. Guru tersebut seakan tak mau tahu, apa yang menjadi kebutuhan anak didiknya. Apakah kita sebagai guru, kadang-kadang atau seringkali bertindak seperti beliaunya?

Bojonegoro, 6 Februari 2019

Tinggalkan Balasan