Niromong, Bisakah Mendorong Siswa Lebih Adaptif Terhadap Perubahan?

Niromong, Bisakah Mendorong Siswa Lebih Adaptif Terhadap Perubahan?
Oleh: Ajun Pujang Anom

Hari ini saya melakukan eksperimen kepada anak-anak, tentang apa yang saya sebut niromong. Niromong ini adalah semacam “mekanisme” yang mendorong siswa untuk benar-benar mandiri dalam proses pembelajaran. Guru dalam proses tersebut lebih bertindak sebagai wasit (time-keeper).

Niromong sebenarnya sudah dilakukan oleh guru, meskipun tidak terlalu sering dilakukan. Niromong cenderung dilaksanakan ketika guru tidak sedang berada di kelas. Atau tetap di dalam kelas, namun mempunyai aktivitas dengan proritas tinggi. Dan dua tipe niromong ini merupakan tipe alami. Sedangkan niromong yang saya uji coba adalah tipe tersadari.

Dalam uji coba tersebut, saya mengambil materi “bangun ruang”. Di awal pembelajaran saya memberikan sejumlah bahan pada siswa. Dengan bahan tersebut, siswa diharapkan dapat membuat bangun ruang seperti yang ada di buku pelajaran.

Apa yang terjadi? Pada percobaan pertama, seluruh siswa mengalami kegagalan. Apa yang mereka hasilkan berupa “bangun datar” bukan bangun ruang. Setelah itu menuju percobaan kedua, saya memberikan petunjuk benda-benda di sekitar yang merupakan contoh bangun ruang. Dan lagi-lagi hasilnya zonk. Pada percobaan ketiga, saya memperagakan cara pembuatan sebuah bangun ruang. Dan hasilnya anak-anak dapat membuat dengan baik. Bahkan ketika, diminta membuat bangun ruang lainnya, hasilnya juga sama.

Dari ketiga percobaan ini, saya menarik kesimpulan sederhana, “bahwa sebuah gagasan atau inovasi pembelajaran apapun namanya, harus melewati proses pengujian, tidak cuma satu-dua kali, agar dapat diketahui dimana letak kelemahannya.” Karena itulah, besok saya akan menguji lagi konsep niromong ini dengan melakukan “pengkondisian situasi tertentu”, pada materi yang lain.

Tinggalkan Balasan